Banten

AS Dalam Bahaya! Iran Pamer Torpedo Super 360 Km per Jam: Sekali Hantam, Kapal Induk Bisa Karam

Abdurahman | 30 April 2026, 23:14 WIB
AS Dalam Bahaya! Iran Pamer Torpedo Super 360 Km per Jam: Sekali Hantam, Kapal Induk Bisa Karam
Ilustrasi torpedo super Hoot milik Iran yang menggunakan teknologi gelembung udara untuk mencapai kecepatan maksimal (dok Ist)

AKURAT BANTEN– Eskalasi di Timur Tengah memasuki babak baru yang lebih mengerikan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran baru saja memamerkan kekuatan bawah laut yang diklaim mampu mengubah peta pertempuran maritim secara instan.

Senjata tersebut adalah Hoot (Sang Paus), torpedo supercepat yang dirancang khusus untuk menjadi mimpi buruk bagi kapal-kapal induk Amerika Serikat yang beroperasi di Teluk Persia.

Kehadiran rudal bawah laut ini bukan sekadar gertakan sambal.

Dengan kemampuan menembus batas fisika air, Iran mengirimkan pesan jelas: tidak ada kapal perang yang benar-benar aman di Selat Hormuz.

Baca Juga: Negosiasi Buntu! Trump Lanjutkan Blokade, Iran Siapkan Balasan 'Tak Terduga'

Teknologi Superkavitasi: Peluru di Bawah Air

Apa yang membuat torpedo Hoot begitu ditakuti? Rahasianya terletak pada teknologi supercavitation.

Jika torpedo konvensional terhambat oleh gesekan air yang padat, Hoot menciptakan gelembung udara tipis yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Kondisi ini membuat Hoot tidak lagi bersentuhan langsung dengan air, melainkan meluncur di dalam kantong udara.

Hasilnya, senjata ini mampu mencapai kecepatan luar biasa hingga 360 km/jam, atau empat kali lebih cepat dari torpedo standar milik NATO.

Kami telah menciptakan zona bahaya yang tidak bisa ditembus oleh teknologi radar maupun sonar konvensional. Senjata baru kami berada tepat di samping musuh, dan kecepatan mereka adalah maut yang tak terhindarkan, — Laksamana Madya Shahram Irani, Komandan Angkatan Laut IRGC.

Baca Juga: Trump Desak Soal Kesepakatan Nuklir, Ancam Keras Iran: Tak Ada Lagi Ampun!

Sekali Hantam, Kapal Induk Bisa Karam

Tidak hanya soal kecepatan, daya hancur Hoot juga sangat masif.

Menggendong hulu ledak seberat 200 kilogram, torpedo ini dirancang untuk menghantam bagian bawah kapal perang—titik paling rentan dari sebuah kapal induk.

Ledakan di bawah garis air menciptakan efek tekanan hidrostatik yang mampu mematahkan lunas kapal paling kuat sekalipun.

Dalam skenario pertempuran di Selat Hormuz yang sempit, kecepatan 360 km/jam membuat sistem pertahanan jarak dekat (CIWS) seperti Phalanx milik AS kehilangan waktu reaksi yang cukup untuk melakukan intersepsi.

Baca Juga: Trump Klaim Iran di Ambang Runtuh, Minta AS Buka Selat Hormuz Segera

Ancaman Nyata bagi Hegemoni AS

Langkah Iran memamerkan Hoot secara terbuka diyakini sebagai respons terhadap tekanan militer dan ekonomi yang kian meningkat.

Dengan menguasai teknologi yang hanya dimiliki segelintir negara (termasuk Rusia dengan Shkval), Teheran ingin memastikan bahwa setiap upaya blokade terhadap mereka akan dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Kini, perhatian dunia tertuju pada bagaimana Washington merespons ancaman "Paus Pembunuh" ini.

Di perairan yang sempit dan penuh sesak seperti Selat Hormuz, kehadiran Hoot telah mengubah aturan main secara permanen.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman